Cinta yang Terakhir



Diliriknya gadis itu, dia sadar dia mungkin hanya bermimpi untuk itu, namun sebuah harapan yang telah lama diendapkan dalam hatinya tak pernah ia bersihkan.

Dalam diam dia terus mencari, mencari sebuah harapan. Dalam tumpukan sampah sebuah cinta yang telah lama di buang. Terkadang itu selalu membuatnya malah terhanyut didalamnya.

Waktu telah lama tergantikan, namun nama gadis yang sedang dia pandang itu masih terus tersimpan, dia tak mungkin bisa melupakannya begitu saja.

"Maafkan aku Ga, kamu memang tidak salah, namun keadaan yang telah memaksa aku untuk buat keputusan ini. Bukan aku tak menghargai empat tahun kebersamaan kita, namun aku merasa kita memang sudah tidak lagi sejalan, tak ada gunanya kita terus mempertahankan hubungan ini jika akhirnya harus ada yang terluka."

"Kamu tak tahu bagaimana terlukanya aku dengan keputusan mendadak kamu ini."


Sesal




Matahari terbenam layak bayi menutup matanya, perlahan, terkantuk-kantuk. Aku berjalan mengitari jalan ini untuk ke dua kalinya tapi perasaan ini jauh lebih melelahkan dua ratus kalinya.

Akankah ia datang?

Akankah ia menemputku?

Aku bosan dengan semua penantian ini...

Dua tahun lalu, di tempat ini kami berjanji bahwa hari ini kami akan bertemu kembali. Menyamakan hati menyatukan jiwa kami yang terluka.


Our Music




Hari pertama belajar sebagai murid kelas 2 SMP. Horeee!!! Horeee!!! Akhirnya aku memiliki para
junior yang bisa dikerjai. Ups, niat buruk itu sepertinya sudah ada di dalam kepalaku. Tapi tenang
saja, mana mungkin aku yang begitu baik seperti malaikat ini tega mengerjai para junior yang
masih polos. Jadi aku tetap memilih menjadi senior yang baik.
"Percy, album perdana Gita Gutawa sudah beredar!" Tia, temanku yang satu ini memang selalu
lebih terlambat dari yang lain. Albumnya itu sudah keluar beberapa minggu yang lalu. Sungguh
terlambat kalau baru mengetahuinya sekarang.


Perjalanan Cinta

"Ji, jujur aku nggak bisa lagi menahan semua perasaan yang meluap-luap ini," ucapku kikuk pada sosok lelaki kurus semampai yang sedang berdiri kaku di hadapanku.

"Jadi?" tanyanya dengan kikuk pula.

"Aku rasa, kamu sudah tahu tentang isi hati aku. Kalau boleh jujur, kamu itu cinta pertama aku. Kamu bisa membuat aku mengerti cinta yang sebenarnya. Dan...," tiba-tiba kata-kataku dipotong.

"Sya, aku mau minta maaf sebelumnya. Sebenarnya aku," Eji menggantung ucapannya

"Sebenarnya apa Ji?" tanyaku dengan harap-harap cemas. Mataku terus menatapnya, mencari-cari sebuah jawaban lewat mata elangnya itu.


Ketika Hujan

" Ryan, latihannya kan sudah selesai.....?!" Gerutu Zahra, teman sejak kecilku yang tomboy.

" Iya, nih! Kamu terlalu bersemangat...!" Kata Ardan menghela napas. Aku hanya tersenyum kearah mereka sambil tetap memainkan bolaku.

" Eh, mulai mendung. Kayaknya bentar lagi hujan. Pulang, yuk!" Ajak Ardan. Zahra pun mengiyakannya. Mereka berdua mengajakku pulang bersama, tapi aku hanya tersenyum sambil berkata,

"Nanti saja! Aku masih ingin bermain...."mereka berduapun berlalu meninggalkanku sendiri.

Lapangan dibawah jembatan. Tempat yang paling sering kukunjungi untuk bermain bola. Tapi nggak asyik! Aku cuma bisa main sendiri. Teman-temanku yang lain selalu menjawab sama ketika kuajak.

"Capek, ah! Kamu ini terlalu bersemangat Ryan!"


Persahabatan Dan Cinta

Tuhan itu Maha Adil. Semua orang di dunia ini pasti setuju dengan hal itu. Yah, tentu saja kecuali orang-orang Atheis yang tidak percaya Tuhan. Akupun setuju, Tuhan memang Maha adil. Hanya saja menurutku keadilan Tuhan tidak akan kita dapatkan di dunia. Kita baru akan mendapatkan keadilan Tuhan yang seadil-adilnya di kehidupan akhirat.

Tak Ada Yang Sempurna (Chapter 3)

   Hari masih cukup terang ketika aku mengendarai mobil melewati jalanan kota menuju
rumahku. Aku dapat melihat langit di sebelah barat yang mulai berwarna kekuningan, sebuah
tanda bahwa matahari  akan segera meninggalkan hari. Langit di sebelah timur masih berwarna
biru muda, dengan dihiasi sekawanan awan yang saling bergerobol, seakan sedang
bergandengan meramaikan langit. Pepohonan yang berbaris di pinggir jalan sesekali bergoyang di
tiup angin yang berhembus dengan nada khidmat, membawaku untuk mengikutinya menikmati sore
ini, membantuku mengusir suasana hati yang sempat rusak tadi. Aku tahu sore ini mencoba
menghiburku, dan itu bisa dibilang berhasil walaupun hal itu belum mampu menghilangkan rasa
tidak enak di hatiku.


Cinta Yang Salah

"Gyaa!!! Jeleeekkk!!! Balikin handphone gue!" Dasar, sepupu - sepupu gue emang nyebelin (Bangeet!). tega-teganya mereka
ngambil handphone gue cuma buat nyari tau sejauh mana gue pacaran. Padahal gue udah sumpah kalo gue nggak punya cowok! Tapi tetep aja kunyuk-kunyuk itu nggak percaya. Sementara tangan gue ditahan ama Dimas, inbox HP gue dibacain ama kunyuk-kunyuk yang laen. Urgh,
nggak ada kerjaan banget sih!
"Gue nggak yakin kalo Hp yang gue pegang ini  punya anak SMA. Masa sih Hp anak SMA pesannya Cuma dari papa, mama, ama kita-kita doank. Payah!"
"Eh, ya terserah gue donk! Udah, balikin Hp gue!!!"
"Ayam cerewet!" Sembur Dimas.





Distorsi

Ryo.. siapa yang tidak mengenal dia? Tampan, berkharisma tinggi, tajir dan mempunyai otak setara dengan
Einstein, ups.. mungkin memang aku yang terlalu berlebihan tapi toh nyatanya dia memang pemegang rekor IQ tertinggi di sekolah ini.
Dia PERFECT! tidak.. tidak semua orang mempunyai kelemahan begitu pula pangeran sekolah ini. Dia gay! dan yang lebih parahnya pasangannya adalah  Shandy cowok berandal dengan jumlah basis penggemar cewek paling banyak.Tipikal cowok bad boy tapi sekaligus misterius.

Cinta yang Kembali

aku menangis disudut kamarku. meringkuk didalam redupnya cahaya kamarku untuk kesekian
kalinya.
sial, kenapa aku aku masih saja menangis untuknya.kenapa bayangan akan masa-masa yang
telah kulewati bersamanya terus saja berputar-putar dalam memori ingatanku.
hatiku sangat sedih, kesal, marah dan benci semuanya bercampur menjadi satu didalam
perasaanku yang kurasakan saat ini.
bodoh..., kenapa aku tidak bisa membuang perasaanku kepadanya walaupun dia sudah
seenaknya pergi meninggalkanku tanpa aku apa alasannya dan salahku sehingga dia melakukan
itu. mungkin dia sudah bosan kepadaku.
lupakan......

Tak Ada Yang Sempurna ( Chapter 2 )


< PUTRI :>
Aku memarkir motorku di tempar parkir belakang sekolah, menempatkanya berdampingan
bersama motor-motor lainya. Aku melihat ke kaca spion untuk merapikan rambutku yang cukup
panjang, memastikan angin tidak membuatnya berantakan. Setelah itu, aku merapikan pakaianku
juga. Sempurna. Aku berjalan meninggalkan tempat parkir sambil membersihkan kacamataku.

Tak Ada Yang Sempurna ( Chapter 1 )


Seperti biasa, aku tiba di sekolah sepuluh menit sebelum bel masuk berbunyi. Aku berjalan
menyusuri tempat parkir, meninggalkan mobilku yang telah terparkir dengan posisi rapi. Ketika
memasuki halaman belakang sekolah, aku bertemu dengan Dyaz, cowok teman satu kelasku.
“ Hoi Ryan!”, suaranya seperti terburu-buru.
“ Hai. Ngapain kau? Kayak di kejar anjing saja!”
“ Hah. Jam pertama ada kuis hoi. Fisika.”
“ Terus?”
“ Ah, sialan kau. Mentang-mentang otak encer!”
“ Hah? Ngomong apaan sih?”, aku benar-benar tidak mengerti.
“ Haha. Sudahlah. Seperti biasa ya bro, bantuan?”
“ Bukankah sudah puluhan kali aku jelaskan kawan cara main kita?”, aku memberi penekanan
pada nada bicaraku.

Venus and Shiva


CHAPTER I
Vinny : The Introduction

Vinny, tujuh belas tahun. Pembangkang. Keras kepala. Suka main-main dalam segala hal.
Sanguinis Populer. Sejak kecil, hidupnya bergelimang harta.
Seperti layaknya keluarga `sok' modern, orientasi orang tuanya tak lebih dari sekedar materi.
Kasih sayang, hanya sekedar normalitas, juga dalam bentuk materi.
Vinny tumbuh dan berkembang dengan semaunya. Tumbuh bersama susu kaleng dan timangan baby-sitter.
Ia gadis. Ia seorang perempuan. Kuntum yang mekar di usia ke-enam belas. Menawan. Membuat mata setiap
pemuda tak pernah melewatkannya. Prestasi. Tanyakan pada Vinny, ia tahu segalanya. Walking Dictionary, kata mereka.
Organisasi. Jangan heran. Kharisma, itu ia miliki. Saat ia diam, semua diam. Saat ia tertawa, semua tertawa.
Venus, itu julukan dari para `fans'. The Goddess.